Jika hidup adalah perjuangan,mungkin istilah ini pas pisan buat seorang Ikeuchi Aya(J-drama) (Kitou Aya-kisah nyata). Dia menderita Spinocerebellar Degeneration,yang mengganggu aktifitas kesehariannya. Aya mengidap penyakit ini ketika berumur 14 tahun.Semula sebagai seorang gadis periang,cerdas,namun saat Aya mengidap penyakit ini dia berubah.
Gejala awal dari penyakit ini,tubuh kehilangan keseimbangan,tak bisa mengatur jarak dengan benda yang akan dijangkau,sering terjatuh,susah berjalan yang kemudian tak bisa berjalan,susah berbicara kemudian tak bisa berbicara sama sekali,lalu susah menelan makanan. Yang akhirnya terbaring total di kasur,hingga tak bisa melakukan apa-apa sama sekali,dan harus di bantu orang lain untuk makan,ganti baju,dll.
Mulanya Aya tak menerima penyakit ini,karena penyakit ini tak mungkin diderita olehnya yang masih berumur 15 tahun,sampai aya berkata ‘mengapa penyakit ini memilihku??’
Namun dengan dorongan keluarga,teman-temannya,aya berjuang keras untuk terus hidup, Aya menulis ini dalam surat cintanya ‘…masa depan ku hanyalah terus berjuang untuk terus hidup,hanya itu,…terus berjuang untuk tetap hidup’ juga ‘aku tak akan berkata ingin kembali lagi ke masa lalu,aku akan menerima keadaanku dan menatap masa depan,,(nikki),juga kepada ibunya..’ibu,tolong carikan arti hidup buatku..??’ dan ‘ibu aku harus tetap menulis di buku harian,karena ini adalah bukti bahwa aku masih hidup…’ (J-drama)
Aya berjuang melawan cibiran orang,pandangan orang yang memandang rendah dirinya,penyakitnya yang Aya sendiri menyadari bahwa penyakit ini akan berujung pada kematian karena penyakit ini tak bisa diobati,dan keinginannya sebagai seorang manusia…menikah..’Sensei…atashi …kekkon dekiru..?’ ‘Dokter apa aku bisa menikah?’
Sebagai seorang manusia,Aya juga menyesali penyakit ini menjangkitnya,,ini tertulis dalam buku hariannya..’Aku ingin membuat mesin waktu agar aku bisa kembali ke masa lalu…’(kisah nyata),Aya juga melepas cintanya karena penyakit ini..‘Hidup kita berbeda,masa depan kita pun berbeda,terima kasih atas semua yang telah kau berikan,tapi aku tak punya apapun untuk membalasnya,,,mo aemasen,sebaiknya kita jangan bertemu lagi…’(J-drama).
Bahkan sampai masa kritisnya Aya masih berjuang,jantungnya terus berdetak,saat Aya koma dan berhenti bernafas,meskipun saat sedang menggunakan respirator. Wajahnya tetap tenang,seperti sedang dalam tidur yang nyaman. Ibunya yang menemaninya saat kritis,mengharapkan Aya masih bisa membuka matanya,tersenyum,dan berbicara dengannya,untuk yang terakhir kalinya….
“Aya tolong lihat Ibu,bisakah Aya merasakan kehangatan Ibu?”
Walaupun kami tahu tidak ada harapan,kami berusaha untuk mengontrol bagaimana mengatasi susahnya di masa lalu. Sepertinya terlalu kejam jika harus berakhir seperti ini,jika Aya harus pergi,setidaknya Aya harus berpamitan pada kami….Aya,bisa mengerti apa yang Ibu katakan?
“Kenyataan itu terlalu kejam,terlalu brutal,bahkan aku tak punya hak untuk bermimpi
Jika berfikir tentang masa depan,hanya akan kembali berderai air mata,,,”
“Akan terasa enak rasanya jika bisa tidur dikeliligi bunga yang banyak sambil mendengarkan musik favoritku..”
Perjuangan Aya sampai pada akhir hidupnya (25 tahun), dia menulis buku harian semenjak usia 14 tahun sampai tak bisa memegang spidol. Mulanya aya menulis dengan ballpen,namun semakin lama penyakitnya membatasi kemampuannya untuk menulis,hingga ia harus menggunakan kedua tanggannya untuk memegang spidol…
Dan catatan Aya ini menjadi penggugah semua penderita yang sama untuk terus hidup,hingga catatan hariannya (nikki) diapresiaikan ke dalam sebuah buku dan drama,dengan judul yang sama..Ichi ritoru no namida,One litre of tears,Satu liter air mata…bukunya terjual lebih dari 1,8 juta kopi,dan dramanya masuk 10 besar dalam urutan drama favorit di Jepang…
g bosen aku liat film ini,nangis terus,,,hahahahahaha
Erika kawai banget maenin perannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar